KENDARI, Kongkritsultra.com- Lembaga Budaya Muna (LBM) mulai menyiapkan agenda besar yang diproyeksikan menjadi salah satu pertemuan masyarakat Muna terbesar di Sulawesi Tenggara tahun ini. Bertajuk Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna, kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di Kota Kendari sekitar 20- 21 Juli 2026, usai momentum lebaran.

Di balik agenda seremonial itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: konsolidasi sosial, penguatan identitas budaya, hingga pembentukan kekuatan kolektif masyarakat Muna di tengah dinamika sosial dan politik daerah.

Ketua Lembaga Budaya Muna, La Ode Darwin, menyebut agenda tersebut ditargetkan mampu menghadirkan 10 ribu hingga 20 ribu masyarakat Muna yang tersebar di berbagai wilayah, khususnya di Kota Kendari.

“Kita ingin mengundang seluruh masyarakat Muna agar bisa berkumpul dalam satu momentum besar,” ujarnya Senin Malam (18/5/2026)

Namun jika dicermati lebih jauh, agenda ini bukan sekadar temu kangen atau acara budaya biasa. Ada upaya membangun “rumah besar” masyarakat Muna agar tidak lagi berjalan sendiri-sendiri dalam berbagai kepentingan sosial maupun pembangunan daerah.

Dalam konteks sosial, langkah Lembaga Budaya Muna (LBM) ini dapat dibaca sebagai bentuk konsolidasi identitas. Masyarakat Muna yang selama ini tersebar di berbagai daerah, profesi, dan latar belakang sosial ingin dipertemukan kembali dalam satu ruang kebersamaan.

La Ode Darwin secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya ingin menghapus sekat-sekat internal yang selama ini dianggap masih muncul di tengah masyarakat Muna.

“Masyarakat Muna harus bersatu dan tidak lagi terkotak-kotak,” katanya.

Pernyataan tersebut mengandung pesan penting. Di tengah perkembangan urbanisasi dan kompetisi sosial di kota besar seperti Kendari, penguatan solidaritas berbasis kultur menjadi instrumen penting menjaga eksistensi komunitas.

Silaturahmi Akbar ini juga akan dirangkaikan dengan pelantikan pengurus baru Lembaga Budaya Muna. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bahkan direncanakan turut dilibatkan dengan mengundang Gubernur Sultra untuk hadir langsung dalam agenda tersebut.

Secara politik sosial, kehadiran puluhan ribu masyarakat dalam satu forum budaya tentu memiliki makna besar. Bukan dalam konteks politik praktis, melainkan menunjukkan bahwa masyarakat Muna memiliki modal sosial yang kuat dan terorganisasi.

Di sisi lain, agenda tersebut menjadi ujian awal bagi kepemimpinan La Ode Darwin sebagai Ketua Lembaga Budaya Muna (LBM) hasil Musyawarah Daerah ke-IV.

Ia menegaskan lembaga yang dipimpinnya tidak hanya akan bergerak di bidang adat dan budaya, tetapi juga menjadi wadah yang aktif memfasilitasi kebutuhan masyarakat Muna, termasuk dalam aspek sosial dan ekonomi.

“Tugas saya bagaimana menjaga martabat dan kehormatan orang Muna,” tegasnya.

Kalimat itu menjadi penanda bahwa LBM ke depan ingin tampil bukan sekadar sebagai simbol adat, tetapi sebagai institusi sosial yang memiliki daya pengaruh dalam menjaga solidaritas masyarakat Muna Raya.

Jika agenda Silaturahmi Akbar ini benar-benar mampu menghadirkan puluhan ribu warga seperti yang ditargetkan, maka Lembaga Budaya Muna (LBM) sedang mengirim pesan bahwa kekuatan budaya masih menjadi perekat utama masyarakat di tengah perubahan zaman dan dinamika modernisasi daerah*