KENDARI, Kongkritsultra.com- Di tengah banyak daerah masih bertumpu pada pendekatan pembangunan konvensional, Kabupaten Muna Barat mulai membuka jalur yang berbeda: menggabungkan kekuatan budaya dengan kekuatan ilmu pengetahuan.
Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, mendorong pembentukan forum silaturahmi yang menghimpun seluruh guru besar atau profesor asal Muna Raya (Muna dan Muna Barat). Gagasan ini muncul di sela Musyawarah Lembaga Budaya Muna (LBM) di Hotel Claro Kendari, Senin (18/5/2026).
Namun jika dibaca lebih jauh, inisiatif ini tidak sekadar agenda reuni akademisi daerah. Ada arah yang lebih strategis: membangun apa yang bisa disebut sebagai “brain trust daerah” — sebuah wadah pemikiran kolektif berbasis keilmuan untuk membaca ulang potensi Muna Raya.
Darwin menyebut sedikitnya sudah terdata 42 profesor asal Muna Raya, dan jumlah itu diperkirakan bisa mendekati 100 orang jika seluruh akademisi yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia berhasil dihimpun.
- DP3A Konsel Tegas Bantah Intervensi, Sebut Narasi yang Beredar Sudah Keluar Jalur
- Mubes IV Lembaga Budaya Muna Jadi Titik Balik, Seruan Kuat Jaga Bahasa dan Persatuan Generasi Muda
- Dari Lembaga Budaya ke Ruang Gagasan: Muna Raya Siapkan Pusat Pemikiran Akademik Daerah
- Lihat semua berita terbaru di Kongkrit Sultra
“Ini aset besar yang selama ini belum terkelola secara sistematis. Kita ingin mereka tidak hanya jadi kebanggaan, tapi juga jadi bagian dari solusi pembangunan,” ujarnya.
Jika selama ini hubungan pemerintah daerah dengan akademisi cenderung bersifat insidental—misalnya hanya lewat kajian atau seminar sesaat—maka forum ini diarahkan menjadi ruang yang lebih permanen dan terstruktur. Semacam “ruang konsensus ilmiah” untuk membaca arah pembangunan daerah.
Dalam rencana awalnya, forum ini akan menjadi tempat diskusi lintas disiplin. Mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, ekonomi lokal, hingga isu-isu tata kelola pembangunan. Pemerintah daerah berharap, setiap gagasan yang lahir tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi bisa diturunkan menjadi rekomendasi kebijakan.
- DP3A Konsel Tegas Bantah Intervensi, Sebut Narasi yang Beredar Sudah Keluar Jalur
- Mubes IV Lembaga Budaya Muna Jadi Titik Balik, Seruan Kuat Jaga Bahasa dan Persatuan Generasi Muda
- Dari Lembaga Budaya ke Ruang Gagasan: Muna Raya Siapkan Pusat Pemikiran Akademik Daerah
- Lihat semua berita terbaru di Kongkrit Sultra
Di titik ini, pendekatan Muna Barat terlihat mulai bergeser dari sekadar pembangunan berbasis program menuju pembangunan berbasis pengetahuan. Sebuah model yang di banyak daerah masih jarang benar-benar difungsikan secara serius.
Darwin juga menegaskan bahwa forum ini tidak akan dibatasi oleh sekat birokrasi. Justru yang diharapkan adalah kebebasan berpikir dari para akademisi untuk mengkritisi sekaligus memberi arah baru pembangunan.
“Kami tidak ingin hanya mendengar yang menyenangkan. Justru masukan kritis itu yang dibutuhkan,” katanya.
Di sisi lain, inisiatif ini juga membawa pesan penting tentang bagaimana daerah mulai menyadari bahwa sumber daya manusia diaspora—termasuk akademisi yang tersebar di luar daerah—adalah modal yang selama ini kurang dimaksimalkan.
Jika berhasil berjalan konsisten, forum ini berpotensi menjadi model baru kolaborasi pemerintah daerah dengan dunia akademik. Bukan sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjadi “mesin ide” untuk pembangunan jangka panjang.
Selain fokus pada aspek pembangunan, Darwin juga menyinggung pentingnya menjaga kohesi sosial dan budaya masyarakat Muna Raya, baik di kampung halaman maupun di perantauan. Lembaga Budaya Muna, menurutnya, tetap menjadi ruang penting untuk menjaga identitas kolektif masyarakat.
Ia menegaskan, penguatan budaya tidak boleh berjalan terpisah dari pembangunan. Justru keduanya harus saling menguatkan: budaya sebagai identitas, dan ilmu sebagai arah gerak.
Di akhir penyampaiannya, ia juga menepis anggapan bahwa keterlibatannya dalam lembaga budaya memiliki muatan politik.
“Fokusnya tetap sama, bagaimana orang Muna bisa maju bersama, bukan untuk kepentingan sesaat,” ujarnya.
Dari Kendari, gagasan ini kini mulai dibaca sebagai salah satu eksperimen menarik: bagaimana sebuah daerah mencoba menghubungkan tradisi, identitas, dan ilmu pengetahuan dalam satu ruang pembangunan yang sama*
