*Sebenarnya, Sidrap Itu Keren*
Akhir-akhir ini, Sidrap dicibir terus. Sayang yah.
Oleh: Edy Basri
Yes. Itulah kenyataannya.
- Antrean Pertalite Tak Kunjung Berakhir, Dugaan BBM Dilansir Jadi Sorotan
- Bea Cukai Kendari Gagalkan Peredaran 18.960 Batang Rokok Ilegal di Wakatobi
- Muh Gilang Anugrah Muncul di Bursa Ketum PB HMI, Tawarkan “HMI Progresif” dari Kendari ke Panggung Nasional
- Lihat semua berita terbaru di Kongkrit Sultra
Viralnya dimana-mana. FB, IG, TikTok dan lainnya.
Kalau Sidrap hanya dilihat dari apa yang sedang ramai dibicarakan itu, orang bisa saja salah menyimpulkan.
Padahal, ada sisi lain tentang Sidrap loh.
Sidrap yang sawahnya menghasilkan ratusan ribu ton beras. Sidrap yang telurnya dikirim ke luar daerah. Sidrap yang punya pembangkit listrik tenaga angin. Sidrap yang pertumbuhan ekonominya melaju. Sidrap yang terus berusaha menekan stunting dan kemiskinan.
Singkatnya: **sebenarnya, Sidrap itu keren.**
Itulah wajah Sidrap yang dipaparkan Bupati Sidenreng Rappang, **H. Syaharuddin Alrif**, dalam sebuah podcast yang dipandu Pimpinan Redaksi Katasulsel.com, Edy Basri.
Obrolannya tidak sekadar soal politik atau pemerintahan.
Syaharuddin justru membawa percakapan ke hal yang lebih konkret: **apa yang sebenarnya dimiliki Sidrap dan sejauh mana daerah ini bergerak.**
### **Berasnya Bukan Main-Main**
Mari mulai dari sawah.
Syaharuddin menyebut produksi beras Sidrap mencapai sekitar **500 ribu ton per tahun**.
Ini bukan angka kecil.
Artinya, Sidrap tidak sekadar bertani untuk mengisi kebutuhan dapur sendiri. Produksi pertaniannya ikut menopang kebutuhan pangan di kawasan Indonesia Timur.
Beras bergerak keluar Sidrap.
Telur juga.
Ada hasil pertanian dan peternakan yang terus mengalir ke daerah lain.
Maka agak lucu jika sebuah daerah yang ikut memberi makan daerah lain hanya dikenang dari sisi-sisi negatifnya.
Sidrap punya masalah, tentu.
Daerah mana yang tidak?
Tetapi masalah bukan keseluruhan wajah.
### **Sidrap dan Kincir Raksasa**
Lalu lihat ke arah perbukitan Watang Pulu.
Ada kincir-kincir raksasa yang berdiri di sana.
Itulah **Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap**.
Dari sawah ke energi, Sidrap ternyata punya cerita yang cukup menarik.
Syaharuddin menyebut keberadaan PLTB menjadi bagian dari kekuatan Sidrap dalam membangun kemandirian energi.
Jadi, kalau ada yang mengira Sidrap hanya tentang sawah, mungkin perlu melihat lebih jauh.
Ada energi angin di sana.
Dan angin itu menghasilkan listrik.
### **Ekonominya Ikut Berlari**
Kemudian soal ekonomi.
Syaharuddin menyebut berdasarkan statistik 2025, pertumbuhan ekonomi Sidrap meningkat dari sekitar **4 persen menjadi 7,7 persen**.
Ia menyebut angka itu sebagai pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan.
Angka statistik memang tidak bisa dimakan.
Tetapi angka itu bisa menjadi petunjuk apakah mesin ekonomi sebuah daerah sedang bergerak atau sedang mengerem.
Dan menurut paparan Syaharuddin, mesin itu sedang bergerak.
### **Stunting dan Kemiskinan Juga Bicara**
Ada pula indikator yang barangkali tidak terlalu ramai dibicarakan.
Stunting.
Syaharuddin menyebut Sidrap berada pada angka terendah di Sulawesi Selatan.
Kemiskinan ekstrem juga disebut berada di angka **0,94 persen**.
Sementara kemiskinan secara umum sekitar **4 persen**.
Bagi pemerintah daerah, angka-angka tersebut menjadi bagian dari ukuran keberhasilan pembangunan.
Sebab pembangunan tidak cukup hanya dengan membangun jalan, jembatan, kantor atau fasilitas umum.
Pembangunan baru terasa ketika kualitas hidup masyarakat ikut naik.
### **Jembatan Merah Putih Melengkapi Cerita**
Syaharuddin juga menyinggung pembangunan infrastruktur, termasuk **Jembatan Merah Putih** yang menurutnya semakin melengkapi konektivitas Sidrap.
Jembatan bukan hanya beton dan besi.
Di baliknya ada mobilitas orang, barang dan ekonomi.
Petani membutuhkan akses.
Pedagang membutuhkan jalan.
Pelaku usaha membutuhkan konektivitas.
Masyarakat membutuhkan pelayanan yang lebih dekat.
Karena itu, pembangunan infrastruktur menjadi bagian dari akselerasi yang terus didorong pemerintah daerah.
### **Jangan Menilai Sidrap dari Satu Berita**
Di sinilah persoalannya.
Belakangan, nama Sidrap memang beberapa kali muncul dalam pemberitaan dan percakapan publik dengan berbagai stigma.
Tetapi sebuah kabupaten tidak pernah sesederhana satu berita.
Sidrap bukan hanya apa yang viral.
Sidrap juga bukan hanya apa yang membuat orang berkomentar.
Ada petani yang bangun sebelum matahari muncul.
Ada sawah yang terus menghasilkan.
Ada telur yang dikirim keluar daerah.
Ada listrik yang diproduksi dari angin.
Ada anak-anak yang harus dicegah dari stunting.
Ada keluarga yang harus dikeluarkan dari kemiskinan.
Dan ada pemerintah daerah yang masih punya pekerjaan rumah yang tidak sedikit.
Maka, mungkin sudah waktunya melihat Sidrap dari dua sisi.
Kalau ada yang salah, kritik.
Kalau ada yang kurang, perbaiki.
Tetapi kalau ada yang baik, jangan pula pura-pura tidak melihat.
Sebab **Sidrap bukan daerah tanpa masalah.**
Namun Sidrap juga bukan daerah tanpa prestasi.
Dan dari apa yang dipaparkan Syaharuddin Alrif, satu kesimpulan sederhana bisa ditarik:
**Sebenarnya, Sidrap itu keren.**
Hanya saja, mungkin selama ini kita terlalu sibuk membicarakan sisi yang buruk sampai lupa melihat sisi lainnya. (*)
