KENDARI, Kongkritsultra.com– Bursa kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2026–2028 mulai menghangat menjelang Kongres HMI ke-XXXIII di Lampung.
Salah satu nama yang mulai diperbincangkan datang dari HMI Cabang Kendari, Sulawesi Tenggara. Dia adalah Muh Gilang Anugrah (MGA) Ujarnya Sabtu (22/8/2026)
MGA membawa satu tawaran utama dalam kontestasi tersebut: “HMI Progresif.”
Tagline itu bukan sekadar slogan kampanye. MGA menjadikannya sebagai gagasan untuk mendorong HMI kembali mengambil posisi penting dalam percaturan kebangsaan, terutama dalam mengawal kebijakan publik dan merespons perubahan zaman.
Bagi MGA, HMI tidak boleh hanya menjadi penonton ketika berbagai persoalan bangsa berlangsung di depan mata.
Organisasi mahasiswa Islam itu, menurutnya, harus tetap menjadi ruang lahirnya gagasan, kritik dan gerakan yang berpijak pada nilai intelektual serta moral.
Ditempa dari Daerah
Perjalanan organisasi MGA dimulai dari jenjang bawah.
Ia berproses di komisariat, kemudian Cabang Kendari, Badko HMI Sulawesi Tenggara hingga mendapat kesempatan menjadi bagian dari Pengurus Besar HMI.
Salah satu catatan yang disebut menjadi bagian dari perjalanan organisasinya adalah keterlibatannya dalam memperjuangkan pembentukan Cabang Persiapan HMI Konawe Selatan.
Upaya tersebut dilakukan ketika dinamika internal PB HMI sedang menghadapi persoalan dualisme kepemimpinan.
Bagi MGA, dinamika organisasi tidak semestinya menghentikan proses penguatan kelembagaan di daerah.
Justru dari situ, ia melihat pentingnya konsolidasi organisasi yang tidak hanya berorientasi pada perebutan posisi, tetapi juga memperluas ruang kaderisasi dan gerakan HMI.
Empat Pilar HMI Progresif
Gagasan yang dibawa MGA bertumpu pada empat hal.
Pertama, keberanian moral dan intelektual.
HMI didorong untuk tidak kehilangan tradisi kritisnya. Kritik terhadap kebijakan pemerintah harus tetap dilakukan ketika kebijakan tersebut dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Namun kritik itu, kata MGA, harus disampaikan secara terukur dan berbasis argumentasi.
Kedua, penguatan tradisi kaderisasi.
Menurutnya, kaderisasi tidak boleh berhenti pada pemenuhan formalitas organisasi. HMI harus mampu melahirkan kader yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral dan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Ketiga, transformasi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
HMI dinilai harus mampu membaca perubahan yang bergerak cepat, mulai dari perkembangan teknologi digital, ekonomi, pendidikan hingga isu lingkungan.
Keempat, konsolidasi gagasan nasional.
Energi organisasi perlu diarahkan untuk memperkuat kontribusi kebangsaan, bukan terus terkuras oleh konflik internal.
Bukan Sekadar Perebutan Kursi
Gerakan “MGA For PB HMI” mulai diperkenalkan sebagai wadah untuk menyampaikan gagasan, visi dan rekam jejak MGA kepada kader HMI di berbagai daerah.
Kongres ke-XXXIII di Lampung pun diharapkan tidak sekadar menjadi arena perebutan kursi Ketua Umum PB HMI.
Lebih jauh, kongres harus menjadi ruang adu gagasan tentang ke mana HMI akan dibawa dalam menghadapi tantangan bangsa ke depan.
Bagi MGA, relevansi HMI akan ditentukan oleh keberanian organisasi mengambil sikap terhadap persoalan publik dan kemampuan kader menerjemahkan nilai-nilai perjuangan HMI ke dalam tindakan nyata.
“HMI harus kembali diperhitungkan karena gagasannya, sikap intelektualnya, serta kontribusinya kepada masyarakat. Jika HMI ingin tetap relevan, HMI tidak cukup hanya bertahan—HMI harus bergerak, berani, dan progresif,” tegas MGA.
Dengan membawa gagasan tersebut, Muh Gilang Anugrah kini menempatkan HMI Progresif sebagai tawaran dalam bursa kepemimpinan PB HMI periode 2026–2028.
Kongres Lampung nantinya akan menjadi ruang bagi para kandidat untuk menguji gagasan, membangun konsolidasi dan meyakinkan kader mengenai arah masa depan organisasi*
