KONAWE UTARA, Kongkritsultra.com- Pemulihan terumbu karang di pesisir Konawe Utara tidak cukup dilakukan dengan menanam karang lalu ditinggalkan.

Ada habitat yang harus disiapkan. Ada ikan yang perlu ruang berlindung. Dan ada masyarakat pesisir yang menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutannya.

Gagasan itulah yang dibawa PT Konawe Nikel Nusantara (PT KNN) melalui program rehabilitasi ekosistem terumbu karang di perairan Desa Laimeo, Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 650 unit modular beton diturunkan ke dasar laut.

Bukan sekadar beton yang ditenggelamkan.

Modular tersebut dirancang menjadi struktur terumbu buatan atau artificial reef, yang nantinya berfungsi sebagai tempat hidup sekaligus ruang berlindung bagi berbagai biota laut.

Struktur itu juga dipersiapkan sebagai media untuk menempelkan fragmen karang bercabang yang sehat dan dinilai adaptif terhadap karakteristik perairan setempat.

Koordinator Tim Teknis Rehabilitasi Terumbu Karang PT KNN, Sapri, S.Pi., menjelaskan modular beton tersebut disusun dengan desain tertentu sehingga menyerupai rumah bagi ikan.

Menurutnya, desain tersebut memiliki dua fungsi sekaligus.

“Struktur ini memiliki fungsi ganda. Selain menyediakan habitat dan ruang berlindung bagi ikan serta biota laut lainnya, modular ini juga menjadi media tumbuh yang stabil bagi transplantasi fragmen karang,” ujar Sapri Jumat (2/10/2026)

Dengan konsep tersebut, rehabilitasi tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan karang.

Kawasan yang direstorasi diharapkan secara perlahan kembali menjadi ekosistem yang mampu mendukung kehidupan berbagai organisme laut.

Namun pekerjaan di bawah permukaan laut itu tidak dilakukan secara sembarangan.

Sebelum modular ditempatkan, tim melakukan survei terhadap karakteristik dasar perairan.

Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan struktur beton dapat berada pada posisi yang stabil sekaligus memberikan kondisi yang mendukung proses pertumbuhan karang.

Setelah struktur terpasang, tahapan berikutnya adalah memastikan fragmen karang dapat tumbuh dan berkembang pada media yang telah disiapkan.

Warga Tak Sekadar Menonton

Ada satu hal yang membuat program rehabilitasi ini tidak berhenti pada kegiatan teknis.

Masyarakat Desa Laimeo ikut dilibatkan.

Keterlibatan warga dilakukan sejak tahap sosialisasi hingga kegiatan penanaman di lapangan.

Bagi PT KNN, masyarakat lokal bukan sekadar penerima informasi, tetapi bagian dari ekosistem pengelolaan kawasan pesisir.

Pelibatan tersebut diharapkan menumbuhkan rasa memiliki terhadap kawasan rehabilitasi.

Sebab, terumbu karang yang telah dipulihkan membutuhkan waktu untuk berkembang.

Jika tidak dijaga, hasil rehabilitasi bisa kembali rusak.

Karena itu, kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan kawasan tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.

Manajemen PT KNN menilai keberhasilan restorasi terumbu karang tidak bisa diukur hanya dari berapa banyak struktur yang diturunkan atau berapa fragmen karang yang ditanam.

Keberhasilannya justru akan terlihat dari kemampuan ekosistem tersebut untuk kembali berfungsi dan terus dijaga setelah program awal selesai.

Dari Terumbu Karang ke Ekonomi Warga

Jika pemulihan berjalan sesuai harapan, manfaatnya tidak hanya berada di bawah permukaan laut.

Ekosistem terumbu karang yang sehat memiliki peran penting sebagai habitat berbagai jenis biota laut.

Kawasan pesisir yang lebih produktif juga berpotensi mendukung aktivitas perikanan masyarakat.

Dalam jangka panjang, pemulihan ekosistem tersebut diharapkan ikut memperkuat produktivitas perairan di sekitar Desa Laimeo.

Potensi lain juga terbuka.

Perairan yang memiliki ekosistem terumbu karang yang terjaga dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata bahari apabila didukung pengelolaan yang tepat.

Dengan demikian, satu program lingkungan dapat memiliki efek berantai: terumbu karang dipulihkan, habitat laut bertambah, perairan menjadi lebih produktif, dan peluang ekonomi masyarakat pesisir ikut terbuka.

PT KNN menempatkan rehabilitasi terumbu karang tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara lingkungan pesisir dan aktivitas masyarakat.

Di Laimeo, proses itu kini dimulai dari dasar laut—650 modular beton yang diposisikan bukan sekadar sebagai benda mati, melainkan sebagai fondasi bagi kehidupan baru di bawah permukaan perairan Konawe Utara*