KENDARI, Kongkritsultra.com– Di antara ramainya lalu lintas dan aktivitas warga Kota Kendari, ada seorang pria yang setiap hari setia berdiri di pinggir jalan sambil menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang melintas.
Namanya Kifli. Pria asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu sudah sekitar empat tahun menjalani kehidupan sebagai perantau di Kota Kendari.
Tidak ada toko besar. Tidak ada gerobak mewah. Tidak pula modal dalam jumlah besar.
Yang menjadi andalannya hanya keripik singkong.
- Pengawas SPBN Bokori Bantah Dugaan Penyelewengan BBM Subsidi, Klaim Penyaluran Berbasis Rekomendasi
- Jaga Kenyamanan Pengunjung dan Pelaku Usaha, Pengelola Senapati Land Rutin Benahi Lingkungan
- Misteri Kematian D.Y. di Tinanggea, Sempat Berhenti Kerja karena Sering Didatangi Pria
- Lihat semua berita terbaru di Kongkrit Sultra
Di depan pusat perbelanjaan Rabam Kendari, Kifli menjalani rutinitas yang sama hampir setiap hari. Menata dagangan, menunggu pembeli, melayani pelanggan, kemudian kembali berharap dagangannya habis sebelum hari berakhir.
Bagi sebagian orang, keripik singkong mungkin hanya makanan ringan. Tetapi bagi Kifli, setiap bungkus yang berpindah ke tangan pembeli adalah bagian dari perjuangan mempertahankan hidup di tanah rantau.
“Saya merantau ke Kendari ini semata-mata hanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tidak ada modal besar, jadi saya mulai dari apa yang saya bisa, yaitu menjual keripik singkong,” tutur Kifli saat ditemui di sela aktivitasnya, Selasa (22/9/2026).
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.
Kifli mengaku usaha keripik singkong merupakan salah satu kemampuan yang bisa ia andalkan untuk mendapatkan penghasilan. Daripada menunggu pekerjaan yang belum tentu datang, ia memilih menciptakan penghasilan dari apa yang bisa dikerjakannya.
Selama empat tahun berada di Kendari, pekerjaan itu terus dijalaninya.
Pelan-pelan, usaha sederhana tersebut menjadi sumber pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kifli mengaku dalam kondisi penjualan yang baik, keuntungan bersih yang diperolehnya bisa mencapai sekitar Rp200 ribu dalam sehari.
Jumlah itu mungkin tidak terdengar fantastis bagi sebagian orang.
Namun bagi seorang perantau yang membangun kehidupan dari nol, Rp200 ribu memiliki arti yang jauh lebih besar.
Dari sanalah kebutuhan sehari-hari dipenuhi. Dari sana pula sebagian kecil penghasilan disisihkan untuk menghadapi kebutuhan berikutnya.
Lokasi berjualan di sekitar Rabam dipilih bukan tanpa perhitungan. Kawasan tersebut memiliki aktivitas masyarakat yang cukup tinggi sehingga peluang bertemu calon pembeli terbuka lebih besar.
Setiap orang yang lewat menjadi kemungkinan.
Ada yang memang datang membeli. Ada pula yang awalnya hanya melihat, kemudian tertarik setelah mencicipi atau mengetahui harga dagangannya.
Begitulah roda usaha kecil Kifli berputar.
Tidak selalu ramai.
Ada hari ketika pembeli datang silih berganti. Ada pula waktu ketika ia harus lebih lama menunggu.
Namun satu hal yang tetap sama: Kifli tetap berada di tempatnya.
Panas matahari dan hujan bukan perkara yang selalu bisa dihindari. Berdagang di ruang terbuka membuat kondisi cuaca menjadi bagian dari risiko pekerjaan.
Tetapi bagi Kifli, pilihan untuk tetap bekerja jauh lebih penting daripada mengeluhkan keadaan.
Ia memilih bertahan.
Keripik singkong yang dijajakannya akhirnya bukan hanya menjadi komoditas dagangan, tetapi juga simbol dari sebuah perjalanan panjang seorang perantau.
Dari Bojonegoro menuju Kendari, Kifli membawa satu modal yang mungkin jauh lebih penting daripada uang: kemauan untuk bekerja.
Ia tidak datang dengan cerita tentang keberhasilan besar. Ia hanya ingin hidup lebih baik.
Dan keinginan sederhana itu ia jalani melalui pekerjaan yang mungkin terlihat kecil, tetapi memberikan arti besar bagi kehidupannya.
Kisah Kifli menjadi potret lain tentang wajah perantauan di Kota Kendari. Di tengah pembangunan kota dan geliat ekonomi yang terus bergerak, ada orang-orang seperti dirinya yang mencari ruang untuk bertahan dengan cara sederhana.
Tidak semua orang memulai usaha dengan modal besar.
Sebagian memulainya dari apa yang ada di tangan.
Bagi Kifli, itu adalah singkong yang diolah menjadi keripik.
Dari makanan sederhana tersebut, ia membangun penghasilan, mempertahankan kehidupan dan terus menyimpan harapan bahwa hari esok bisa lebih baik daripada hari ini*
