BUTON UTARA, Kongkritsultra.com- Asap kayu bakar kembali mengepul di sejumlah dapur warga Desa Wantulasi, Kecamatan Labuan, Kabupaten Buton Utara. Bukan karena ingin bernostalgia dengan cara memasak zaman dulu, melainkan karena minyak tanah yang selama ini menjadi andalan masyarakat mendadak menghilang dari peredaran.
Kelangkaan BBM jenis minyak tanah di desa tersebut disebut telah berlangsung hampir dua bulan. Akibatnya, aktivitas rumah tangga hingga usaha kecil masyarakat ikut terganggu.
Warga mengaku kebingungan karena pasokan minyak tanah di pangkalan milik PT Hasana Asnida Jam Gasindo tiba-tiba berhenti tanpa adanya penjelasan yang mereka ketahui.
Salah seorang warga, Jasmin, mengungkapkan keresahan masyarakat yang hingga kini masih menunggu kepastian terkait penyebab terhentinya distribusi minyak tanah tersebut.
“Sudah sekitar dua bulan tidak ada pasokan masuk. Masyarakat sekarang bingung karena minyak tanah memang masih sangat dibutuhkan untuk memasak sehari-hari,” ujar Jasmin saat dihubungi wartawan, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, hampir setiap hari warga mempertanyakan kapan distribusi kembali berjalan normal. Namun hingga kini belum ada jawaban pasti yang diterima masyarakat.
Situasi itu membuat sebagian warga terpaksa mencari alternatif lain demi memenuhi kebutuhan dapur keluarga.
Yang paling banyak dilakukan adalah kembali menggunakan kayu bakar.
Pemandangan yang sempat mulai ditinggalkan kini perlahan kembali terlihat di sejumlah rumah warga. Tungku tradisional yang dulu tersimpan di sudut dapur kembali difungsikan karena tidak adanya pilihan lain.
“Sudah ada warga yang kembali memakai kayu bakar untuk memasak. Mau bagaimana lagi, minyak tanah tidak ada,” kata Jasmin.
Kondisi tersebut semakin memberatkan karena masyarakat mengaku kesulitan memperoleh bahan bakar alternatif. Gas elpiji yang diharapkan bisa menjadi pengganti juga tidak mudah ditemukan di wilayah tersebut.
Kelangkaan berkepanjangan ini membuat warga mulai mempertanyakan penyebab terhentinya distribusi. Mereka berharap ada penjelasan terbuka dari pihak terkait agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Warga juga meminta pemerintah daerah dan Pertamina segera turun tangan mencari solusi agar pasokan minyak tanah kembali normal.
“Kalau memang ada masalah distribusi atau kuota dialihkan ke tempat lain, masyarakat sebaiknya diberi penjelasan. Yang penting kami tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Jasmin.
Menurutnya, keresahan masyarakat semakin besar karena selama ini penyaluran minyak tanah berjalan normal dan tidak pernah mengalami gangguan selama berbulan-bulan seperti sekarang.
Sementara itu, saat dimintai tanggapan terkait persoalan tersebut, perwakilan Hiswana Migas DPC IX Sultra Kepulauan, Rahmat, mengaku belum dapat memberikan penjelasan rinci.
Ia menyebut pihaknya masih perlu melakukan pengecekan data terkait kuota dan distribusi agen minyak tanah yang beroperasi di Kabupaten Buton Utara.
“Saya coba cek dulu kuota agen yang ada di Buton Utara,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab terhentinya pasokan minyak tanah ke Desa Wantulasi.
Yang pasti, selama jawaban itu belum datang, masyarakat masih harus berjuang menghadapi dapur yang kehilangan bahan bakar utamanya. Bagi warga Wantulasi, persoalannya bukan sekadar kelangkaan minyak tanah, melainkan tentang bagaimana roda kehidupan sehari-hari tetap bisa berjalan di tengah ketidakpastian*
