KENDARI, Kongkritsultra.com- Di tengah masyarakat, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran menyampaikan satu persoalan yang setiap hari terus bertambah sampah.
Saat menyampaikan pidato di hadapan masyarakat, Siska mengungkapkan produksi sampah di Kota Kendari kini telah mendekati 300 ton setiap hari.
Angka itu disampaikannya bukan untuk sekadar menggambarkan besarnya persoalan, tetapi sebagai ajakan agar masyarakat ikut mengambil bagian.
Sebab, sekitar 80 persen sampah Kendari berasal dari rumah tangga.
Artinya, persoalan sampah tidak hanya berada di tempat pembuangan akhir. Pangkal persoalannya justru dimulai dari lingkungan tempat masyarakat tinggal ungkap Siska Kamis (13/8/2026)
Siska mengajak warga tidak menyerahkan seluruh persoalan sampah kepada pemerintah.
Menurutnya, Pemkot Kendari memang harus memperbaiki sistem pengangkutan dan pengelolaan. Namun, upaya tersebut tidak akan cukup tanpa perubahan kebiasaan masyarakat.
“Bagaimana masyarakat bisa membudayakan hidup bersih di lingkungannya masing-masing,” demikian pesan yang ditekankan Siska.
Ia mengakui, pemerintah kota masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya keterbatasan armada pengangkut sampah. Jumlah kendaraan yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan pelayanan, bahkan sebagian armada sudah tidak dalam kondisi optimal.
Persoalan juga terjadi di TPA Puwatu.
Tempat pembuangan akhir yang memiliki luas sekitar 36 hektare itu kini mulai menghadapi tekanan kapasitas dan membutuhkan pembenahan sistem pengelolaan.
Di tengah kondisi tersebut, Siska tidak ingin pemerintah hanya menunggu persoalan menjadi lebih besar.
Pemkot Kendari bersama Forkopimda telah menyusun langkah penanganan secara bertahap, mulai dari strategi jangka pendek hingga jangka panjang.
Untuk tahap awal, pemerintah memprioritaskan percepatan pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA Puwatu.
Namun, Siska juga meminta gerakan kebersihan diperkuat dari tingkat kecamatan, kelurahan, hingga RT dan RW.
Ia mendorong masyarakat mulai membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah serta menjaga lingkungan secara bersama-sama.
Bagi Siska, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah armada atau memperluas tempat pembuangan.
Diperlukan perubahan perilaku.
Diperlukan pula kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media.
Apalagi, kemampuan fiskal daerah saat ini turut menghadapi tekanan akibat pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat.
Karena itu, Siska mengajak masyarakat tidak sekadar menjadi penonton dalam persoalan kebersihan kota.
Warga harus menjadi bagian dari solusi.
Pesan tersebut disampaikan Siska dalam konteks target besar Pemkot Kendari membangun kota yang layak huni, maju, berdaya saing, adil, sejahtera dan berkelanjutan hingga 2029.
Sebab, kota yang layak huni tidak cukup hanya memiliki jalan dan gedung yang baik.
Kota juga harus bersih.
Dan untuk mewujudkannya, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian*
