MUNA, Kongkritsultra.com- Kemarahan warga Kecamatan Lohia akhirnya pecah. Setelah hampir 10 tahun menanti perbaikan jalan yang tak kunjung datang, masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Pemuda Kecamatan Lohia memilih turun ke jalan dan memblokade akses menuju dua destinasi wisata unggulan Kabupaten Muna, yakni Pantai Meleura dan Danau Napabale.
Aksi yang berlangsung Rabu (27/5/2026) itu membuat jalur utama penghubung Desa Mantobua dan Korihi lumpuh total. Sejumlah kendaraan terpaksa berhenti, sementara wisatawan yang hendak menuju kawasan wisata hanya bisa menyaksikan antrean panjang di lokasi aksi.
Massa membakar ban bekas, memasang spanduk protes, dan menutup sebagian badan jalan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah daerah yang dinilai belum serius menangani kerusakan infrastruktur tersebut.
Bagi warga, persoalan ini bukan lagi sekadar jalan berlubang. Jalan sepanjang sekitar dua kilometer itu disebut telah menjadi simbol panjangnya penantian masyarakat terhadap perhatian pemerintah.
“Kerusakan jalan ini sudah berlangsung hampir satu dekade. Kami merasa aspirasi masyarakat tidak pernah benar-benar didengar. Karena itu kami melakukan aksi ini sebagai bentuk protes,” ujar Koordinator Lapangan, Zainal Mantobua.
Kondisi jalan yang dipenuhi lubang besar dan genangan air saat musim hujan disebut kerap membahayakan pengendara. Tidak sedikit kendaraan mengalami kerusakan, bahkan warga mengaku sering menyaksikan pengendara terjatuh akibat menghindari lubang di sepanjang ruas jalan tersebut.
Ironisnya, jalan yang rusak itu merupakan akses utama menuju Pantai Meleura dan Danau Napabale, dua destinasi wisata yang selama ini menjadi ikon pariwisata Kabupaten Muna.
Warga menilai sulit berbicara tentang kemajuan sektor wisata jika akses dasar menuju lokasi wisata justru dibiarkan rusak bertahun-tahun.
Dalam aksi tersebut, masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Muna segera mengambil langkah konkret untuk melakukan pengaspalan dan perbaikan permanen. Mereka menegaskan aksi serupa berpotensi berlanjut apabila tidak ada kepastian dari pemerintah.
Bagi warga Lohia, jalan itu bukan sekadar penghubung antar-desa. Jalan tersebut merupakan urat nadi perekonomian masyarakat, jalur pendidikan, akses layanan kesehatan, sekaligus pintu masuk menuju kawasan wisata yang menjadi kebanggaan daerah.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah. Di tengah semangat pengembangan pariwisata yang terus digaungkan, masyarakat menunggu jawaban nyata dalam bentuk perbaikan jalan, bukan sekadar janji yang kembali menguap di atas aspal yang tak kunjung terbangun*
