KENDARI, Kongkritsultra.com- Pemerintah Kota Kendari mulai bergerak mempercepat distribusi bantuan pangan bagi ribuan warga yang terdampak banjir dan longsor di tujuh kecamatan. Bantuan yang berasal dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI itu disalurkan secara bertahap kepada masyarakat berdasarkan jumlah jiwa dalam setiap keluarga terdampak.
Penyaluran bantuan dilakukan langsung Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM, di Kelurahan Wua-Wua dan Kelurahan Lepo-Lepo, Jumat (15/5/2026). Kehadiran orang nomor satu di Kota Kendari itu menjadi simbol bahwa penanganan bencana bukan sekadar urusan logistik, tetapi juga soal memastikan negara hadir di tengah warga yang sedang kesulitan.
Di Kelurahan Wua-Wua, bantuan disalurkan kepada 246 kepala keluarga dengan total 984 jiwa. Sementara di Kelurahan Lepo-Lepo, bantuan diberikan kepada 153 kepala keluarga dengan jumlah 616 jiwa terdampak banjir.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Kendari, total korban banjir dan longsor di Kota Kendari mencapai 1.339 kepala keluarga atau 5.945 jiwa yang tersebar di tujuh kecamatan.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan telah melalui proses verifikasi lapangan agar tepat sasaran. Pemerintah menggunakan basis jumlah anggota keluarga sebagai acuan pembagian bantuan.
“Bantuan ini sudah sesuai data riil masyarakat terdampak banjir dan longsor. Semua dihitung berdasarkan jumlah jiwa dalam keluarga,” ujar Siska.
Ia mengungkapkan setiap warga menerima bantuan beras sebanyak 2,1 kilogram sesuai ketentuan dari Bapanas. Karena itu, ukuran paket yang diterima warga berbeda-beda, tergantung jumlah anggota keluarga masing-masing.
Menurutnya, proses distribusi sempat memerlukan waktu lebih panjang lantaran beras yang dikirim pemerintah pusat masih dalam kemasan besar 50 kilogram sehingga harus dikemas ulang terlebih dahulu sebelum dibagikan ke masyarakat.
“Kalau ada warga yang menerima ukuran karung berbeda, itu karena sudah ditimbang ulang sesuai jumlah jiwa dalam keluarga,” katanya.
Selain bantuan pangan, Pemkot Kendari juga memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan melalui posko terpadu yang melibatkan tenaga kesehatan, BPBD, TNI-Polri, dan instansi terkait lainnya. Langkah ini dilakukan untuk mencegah munculnya penyakit pascabanjir yang biasanya mulai mengintai di lokasi terdampak.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah pusat disebut mulai menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengurangi titik genangan di Kota Kendari. Pemkot berharap penanganan tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi juga menyentuh akar persoalan banjir yang selama ini berulang setiap musim hujan.
“Insyaallah dalam waktu dekat akan ada pembangunan untuk penanganan banjir di kawasan yang menjadi pusat genangan,” ungkap Siska.
Data Dinas Sosial mencatat Kecamatan Wua-Wua menjadi salah satu wilayah terdampak terbesar dengan total 1.082 jiwa atau 265 kepala keluarga. Dari jumlah itu, Kelurahan Wua-Wua menyumbang 984 jiwa, sedangkan Kelurahan Bonggoeya sebanyak 98 jiwa.
Sementara di Kecamatan Baruga, jumlah warga terdampak mencapai 748 jiwa yang terdiri dari 186 kepala keluarga.
Dalam penyaluran bantuan tersebut, Wali Kota turut didampingi unsur Forkopimda, Dandim 1417/Kendari, Sekda Kota Kendari, Kepala Pelaksana BPBD, Kepala Dinas Sosial, dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari*
