KENDARI, Kongkritsultra.com-Pemerintah Kota Kendari mulai menggeser strategi dalam memerangi stunting. Bila selama ini fokus penanganan lebih banyak diarahkan kepada ibu hamil dan balita, kini sasaran utamanya justru para remaja. Alasannya sederhana, generasi yang sehat tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dipersiapkan sejak jauh hari.

Gagasan itu mengemuka dalam Sosialisasi Peran Remaja dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Kendari di Aula Samaturu, Kamis (9/7/2026).

Kegiatan dibuka Sekretaris Daerah Kota Kendari, Amir Hasan, mewakili Wali Kota Kendari, didampingi Kepala DPPPA Kota Kendari, Fitriani Sinapoy.

Di hadapan puluhan peserta, Amir Hasan menegaskan bahwa stunting masih menjadi pekerjaan besar pemerintah daerah. Dampaknya tidak berhenti pada tinggi badan anak, tetapi dapat mengganggu perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Karena itu, menurutnya, pencegahan harus dimulai sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan.

“Remaja adalah fase paling strategis. Di usia inilah pengetahuan tentang gizi, kesehatan reproduksi, dan pola hidup sehat harus ditanamkan. Jika calon ibu sehat sejak remaja, peluang melahirkan anak bebas stunting akan jauh lebih besar,” katanya.

Ia menilai keberhasilan menurunkan angka stunting tidak mungkin hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Persoalan ini membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, keluarga hingga masyarakat.

Sekda juga mengajak para peserta menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi teman sebaya mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

Sementara itu, Kepala DPPPA Kota Kendari, Fitriani Sinapoy, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan perempuan yang bertujuan membangun kesadaran generasi muda terhadap bahaya stunting sekaligus mendorong lahirnya generasi yang lebih sehat.

Menurutnya, tingginya angka pernikahan usia anak di sejumlah daerah menjadi salah satu alasan mengapa edukasi kepada remaja harus diperkuat.

“Remaja harus memahami bahwa kesiapan menjadi orang tua bukan hanya soal usia, tetapi juga kesiapan fisik, mental, dan kecukupan gizi. Itulah sebabnya sosialisasi ini menjadi sangat penting,” ujarnya.

Sebanyak 76 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas perwakilan remaja dari 65 kelurahan, Forum Anak Kota Kendari, hingga kelompok remaja penyandang disabilitas.

Mereka tidak hanya menerima materi mengenai gizi dan kesehatan reproduksi, tetapi juga dibekali pemahaman tentang bahaya pernikahan dini, pola konsumsi sehat, serta peran generasi muda dalam memutus mata rantai stunting.

Materi disampaikan oleh dr. Hasmirah, M.Kes., yang mengajak para peserta memahami bahwa investasi kesehatan sejak remaja merupakan fondasi utama melahirkan generasi unggul di masa depan.

Melalui pendekatan tersebut, Pemerintah Kota Kendari berharap lahir gerakan bersama yang menjadikan para remaja bukan sekadar peserta sosialisasi, melainkan pelopor perubahan di lingkungan masing-masing. Sebab, perang melawan stunting bukan dimulai di ruang bersalin, melainkan sejak generasi muda memahami cara menjaga kesehatan, gizi, dan masa depan mereka sendiri(Red)