KENDARI, Kongkritsultra.com- Pencegahan penyalahgunaan narkotika di sektor pertambangan tidak cukup hanya mengandalkan penindakan ketika kasus sudah terjadi. Upaya pencegahan justru perlu dimulai dari lingkungan kerja.

Pandangan tersebut disampaikan Dewan Pimpinan Pusat Aliansi Pemuda dan Pelajar (AP2) Indonesia setelah mengapresiasi langkah PT Gerbang Multi Sejahtera (PT GMS) menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Sulawesi Tenggara dalam kegiatan pencegahan narkotika.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 115 karyawan PT GMS menjalani tes urine yang dirangkaikan dengan penyuluhan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Ketua Umum DPP AP2 Indonesia, Fardin Nage, menilai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa agenda pemberantasan narkotika dapat ditempatkan sebagai bagian dari tata kelola keselamatan dan kesehatan kerja, bukan sekadar kegiatan formal perusahaan.

“Upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika harus dimulai dari lingkungan kerja. Kami mengapresiasi langkah PT GMS yang bersinergi dengan BNN dan Polda Sultra dalam melakukan tes urine serta edukasi P4GN kepada 115 karyawan,” kata Fardin, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, langkah tersebut layak menjadi rujukan bagi perusahaan pertambangan lainnya, khususnya di Sulawesi Tenggara yang memiliki aktivitas industri pertambangan cukup besar.

Alasannya sederhana. Industri pertambangan memiliki karakter pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi. Kondisi fisik, konsentrasi, kedisiplinan, dan kesiapan mental pekerja menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.

Karena itu, penyalahgunaan narkotika di lingkungan tambang bukan hanya persoalan personal.

Dampaknya dapat merembet ke persoalan keselamatan kerja, produktivitas, disiplin, hingga risiko kecelakaan yang dapat mengancam pekerja lain dan operasional perusahaan.

“Penyalahgunaan narkotika tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpotensi memicu kecelakaan kerja, menurunkan produktivitas, serta membahayakan keselamatan pekerja dan operasional perusahaan,” ujarnya.

AP2 Indonesia menilai tes urine akan lebih efektif apabila tidak berdiri sendiri. Pemeriksaan perlu dibarengi edukasi, pembinaan, pengawasan, serta program pencegahan yang dilakukan secara konsisten.

Dengan pola tersebut, P4GN dapat menjadi bagian dari budaya perusahaan.

Fardin bahkan mendorong agar kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda sesaat.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak bersifat insidental, tetapi menjadi program berkelanjutan yang didukung seluruh pemangku kepentingan. Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penindakan ketika penyalahgunaan narkotika telah terjadi,” tegasnya.

Menurut AP2 Indonesia, keterlibatan BNN dan kepolisian juga penting untuk memastikan perusahaan memiliki mitra strategis dalam menjalankan program pencegahan narkotika secara terukur.

Kolaborasi tersebut sekaligus dapat memperkuat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

AP2 Indonesia kemudian menyerukan agar perusahaan pertambangan lain tidak menunggu sampai muncul persoalan narkotika untuk mulai bergerak.

Perusahaan, kata Fardin, dapat membangun kemitraan dengan BNN dan kepolisian untuk menyusun program P4GN yang sesuai dengan karakteristik lingkungan kerja masing-masing.

Bagi AP2 Indonesia, ukuran keberhasilan industri pertambangan tidak semata-mata terletak pada produksi dan capaian ekonomi.

Ada faktor yang jauh lebih mendasar: bagaimana perusahaan memastikan orang-orang yang berada di balik kegiatan produksi bekerja dalam lingkungan yang aman, sehat, disiplin, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.

“Keberhasilan industri pertambangan tidak hanya diukur dari capaian produksi, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia dan komitmennya dalam menjaga integritas, keselamatan kerja, serta menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari narkotika,” kata Fardin.

Ia berharap sinergi PT GMS, BNN, dan Polda Sultra dapat menjadi contoh bahwa perang melawan narkotika dapat dimulai dari tempat kerja.

Bukan menunggu ada korban.

Bukan menunggu ada kecelakaan.

Tetapi mencegah sebelum persoalan menjadi lebih besar*