KENDARI, Kongkritsultra.com- Mesin politik akademik di Universitas Halu Oleo (UHO) mulai dipanaskan. Tahapan Pemilihan Rektor (Pilrek) UHO periode 2026–2030 resmi bergerak, dan satu per satu figur mulai mengambil posisi dalam kontestasi perebutan kursi tertinggi di kampus terbesar di Sulawesi Tenggara itu.
Salah satu nama yang langsung mencuri perhatian ialah Prof. Ruslin, S.Pd., M.Si. Akademisi senior Fakultas Farmasi itu resmi menyerahkan berkas pendaftaran sebagai bakal calon rektor di Sekretariat Panitia Pilrek UHO, Minggu (24/5/2026).
Di lingkungan kampus, langkah Prof Ruslin dinilai bukan sekadar formalitas administratif. Banyak kalangan mulai membaca kemunculannya sebagai sinyal dimulainya “pertarungan poros intelektual” di internal UHO.
Pilrek di dunia kampus memang berbeda dengan kontestasi politik praktis. Tidak ada baliho raksasa atau konvoi massa. Namun, aroma lobi, konsolidasi pengaruh, pemetaan kekuatan senat, hingga pembentukan opini di ruang-ruang akademik selalu menjadi bagian dari dinamika yang tidak terlihat di permukaan.
Dan dalam peta itu, nama Prof Ruslin mulai disebut sebagai salah satu figur yang memiliki “modal sosial akademik” cukup kuat.
Ia bukan wajah baru di lingkungan UHO. Karier akademiknya tumbuh dari bawah. Berasal dari Desa Latugho, Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat, Prof Ruslin menempuh seluruh perjalanan pendidikannya di Universitas Halu Oleo sejak 1994 melalui Program Studi Pendidikan Kimia.
Dari kampus yang sama, ia meraih gelar sarjana, magister, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai guru besar di bidang farmasi dan kimia medisinal.
Dalam dunia politik kampus, rekam jejak seperti ini sering dianggap sebagai “akar ideologis akademik”. Sosok yang lahir dan besar dari internal kampus biasanya dinilai lebih memahami kultur birokrasi, psikologi civitas akademika, hingga dinamika internal kelembagaan.
Namun Pilrek tidak hanya bicara soal akademik. Kontestasi rektor juga kerap dibaca sebagai arena pertarungan kepemimpinan, jaringan, dan kemampuan membangun koalisi gagasan.
Di titik itu, Prof Ruslin dianggap memiliki pengalaman organisasi yang tidak kecil. Sejak masa mahasiswa, ia aktif di Resimen Mahasiswa (Menwa), mulai dari Wakil Komandan Batalyon Menwa UHO hingga dipercaya menjadi Komandan Resimen Mahasiswa Sulawesi Tenggara.
Pengalaman itu membentuk karakter kepemimpinan yang dikenal disiplin dan terstruktur.
Kariernya kemudian berkembang sebagai dosen tetap Fakultas Farmasi. Dalam beberapa tahun terakhir, ia dipercaya memimpin fakultas tersebut sebagai dekan dan dikenal aktif mendorong penguatan riset, publikasi ilmiah, serta pengembangan kualitas akademik kampus.
Di kalangan akademisi, Prof Ruslin juga dikenal produktif dalam penelitian, khususnya pengembangan farmasi dan kimia medisinal berbasis potensi lokal Sulawesi Tenggara.
Kini, masuknya nama Prof Ruslin ke bursa Pilrek mulai memunculkan spekulasi baru di internal kampus. Banyak pihak melihat kontestasi kali ini tidak sekadar soal siapa yang menang, tetapi tentang arah masa depan UHO di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin kompetitif.
UHO saat ini menghadapi tantangan besar: peningkatan kualitas riset, internasionalisasi kampus, penguatan inovasi, hingga tuntutan tata kelola modern berbasis digital dan kolaborasi global.
Karena itu, Pilrek 2026–2030 diprediksi menjadi arena pertarungan gagasan, bukan sekadar perebutan jabatan administratif.
“Yang dibutuhkan UHO ke depan bukan hanya administrator kampus, tetapi arsitek akademik yang mampu membaca masa depan,” ujar salah satu dosen senior UHO.
Dalam bahasa politik kampus, momentum ini disebut sebagai fase “rebut pengaruh moral dan intelektual”. Figur yang mampu membangun kepercayaan senat, civitas akademika, dan jaringan eksternal akan memiliki peluang besar menguasai arah kontestasi.
Dan dengan rekam jejak akademik, pengalaman organisasi, serta basis pengaruh yang mulai terbaca, Prof Ruslin kini menjadi salah satu figur yang mulai diperhitungkan dalam orbit perebutan kursi Rektor UHO 2026–2030*
