KENDARI, Kongkritsultrs.com- Menjelang Idul Adha, denyut ekonomi Kota Kendari mulai bergerak lebih cepat. Pasar tradisional ramai. Permintaan bahan pokok meningkat. Aktivitas distribusi melonjak. Tetapi di balik ramainya transaksi itu, pemerintah membaca satu potensi yang selalu berulang setiap mendekati hari besar: permainan harga dan penimbunan barang.
Pemerintah Kota Kendari tampaknya tidak ingin kecolongan.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, bersama Satgas Pangan mulai mengirim sinyal keras kepada pedagang dan distributor agar tidak menjadikan momentum Idul Adha sebagai ruang mencari keuntungan secara berlebihan.
Pemerintah sadar, setiap kali kebutuhan masyarakat meningkat, selalu ada ruang yang dimanfaatkan spekulan pasar. Polanya hampir sama. Harga perlahan dinaikkan. Distribusi diperlambat. Stok mulai dimainkan. Di saat masyarakat panik, keuntungan besar datang.
Karena itu, pengawasan kini diperketat.
Pemkot Kendari mulai memantau rantai distribusi pangan dari pasar hingga gudang penyimpanan. Pemerintah ingin memastikan tidak ada aktor pasar yang mencoba “memanen situasi” di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
“Momentum hari raya jangan dimanfaatkan untuk praktik yang merugikan masyarakat,” ujar Siska.
Pernyataan itu sesungguhnya bukan sekadar imbauan biasa. Itu adalah alarm politik pasar.
Sebab pemerintah memahami, gejolak harga bahan pokok menjelang hari raya bukan hanya soal ekonomi rumah tangga, tetapi bisa berkembang menjadi persoalan sosial. Ketika harga cabai, minyak goreng, beras, hingga daging mulai melonjak tajam, yang paling terpukul adalah masyarakat kelas bawah.
Di titik itulah negara dituntut hadir.
Satgas Pangan pun mulai memperingatkan bahwa praktik penimbunan dan permainan harga dapat berujung pada konsekuensi hukum. Pemerintah membuka ruang laporan bagi masyarakat jika menemukan indikasi kecurangan di lapangan.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Pemkot Kendari tidak ingin sekadar menjadi penonton fluktuasi pasar.
Di sisi lain, pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak panic buying. Fenomena belanja berlebihan dinilai justru mempercepat gangguan stok dan memperbesar tekanan harga di pasar.
Dalam bahasa ekonomi, kepanikan konsumen sering kali menjadi bahan bakar utama inflasi musiman.
Karena itu, masyarakat diminta tetap rasional dalam berbelanja dan membeli sesuai kebutuhan.
Menariknya, pendekatan yang dibangun Pemkot Kendari kali ini bukan hanya pendekatan ekonomi, tetapi juga pendekatan moral sosial. Pemerintah mencoba mengembalikan makna Idul Adha bukan sekadar momentum konsumsi, melainkan perayaan nilai pengorbanan dan solidaritas sosial.
“Idul Adha mengajarkan kepedulian dan semangat berbagi. Itu yang harus dijaga,” kata Siska.
Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya kebutuhan rumah tangga, pesan itu terasa penting. Sebab pasar tanpa empati sering kali melahirkan ketimpangan. Dan hari raya tanpa kepedulian mudah berubah menjadi beban bagi masyarakat kecil.
Karena itu, menjelang Idul Adha tahun ini, Pemerintah Kota Kendari memilih mengambil posisi tegas: menjaga pasar tetap sehat, harga tetap terkendali, dan masyarakat tetap tenang.
