KENDARI, Kongkritsultra.com- Setahun bukan waktu panjang untuk menilai sebuah kepemimpinan. Namun bagi duet Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran dan Sudirman, 365 hari pertama adalah fase krusial: meletakkan fondasi, mengonsolidasikan birokrasi, sekaligus menguji komitmen terhadap janji politik.
Selasa, 3 Maret 2026, halaman Balai Kota Kendari akan menjadi ruang refleksi. Pemerintah Kota Kendari menggelar ekspose satu tahun kepemimpinan yang dirangkai dengan buka puasa bersama tokoh masyarakat, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh agama, pemuda hingga unsur organisasi kemasyarakatan.
Bukan sekadar seremoni. Agenda ini disebut sebagai panggung akuntabilitas publik—bahasa populernya: public accountability showcase.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kendari, Sahuriyanto Meronda, menegaskan kegiatan tersebut merupakan wujud keterbukaan informasi publik sekaligus laporan kinerja kepada masyarakat.
“Ekspose ini menjadi momentum penyampaian capaian satu tahun pemerintahan. Sebab Pemerintah ingin memastikan seluruh program prioritas, capaian indikator pembangunan, serta rencana ke depan diketahui secara terbuka oleh publik,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Dalam tata kelola pemerintahan modern, publik tak lagi puas pada narasi normatif. Yang ditunggu adalah deliverables—output dan dampak nyata. Di titik inilah pasangan Siska–Sudirman diuji.
Sejumlah indikator strategis akan dipaparkan: perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), laju pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, hingga penanganan kemiskinan. Isu klasik yang selalu menjadi barometer legitimasi politik kepala daerah.
Tak hanya itu. Program prioritas seperti makan bergizi gratis, koperasi kelurahan, layanan cek kesehatan gratis, penanganan stunting, penguatan infrastruktur, hingga sektor pendidikan dan kesehatan akan menjadi sorotan.
Di balik daftar program itu, terselip agenda besar: membangun governance system yang adaptif. Pemerintahan yang tak sekadar reaktif, tetapi berbasis perencanaan 2025–2026 yang terukur.
Setahun pertama identik dengan konsolidasi. Di internal, sinkronisasi OPD menjadi pekerjaan rumah yang tak ringan. Di eksternal, menjaga stabilitas sosial dan membangun trust building dengan masyarakat.
Visi 2025–2030 yang diusung—“Kota Kendari sebagai Kota Nyaman, Bersih, Pelayanan Jasa yang Berdaya Saing Kuat untuk Keberdayaan Masyarakat dengan Berpijak pada Nilai Keistimewaan”—bukan sekadar tagline. Ia adalah arah kebijakan yang menuntut political will sekaligus keberanian melakukan reformasi birokrasi.
Sahuriyanto pun mengajak masyarakat untuk terus mendukung kinerja pemerintah kota. Sebab dalam paradigma pembangunan partisipatif, keberhasilan tak lahir dari pemerintah semata, melainkan kolaborasi multipihak.
Menariknya, refleksi satu tahun ini dikemas dalam nuansa Ramadan. Buka puasa bersama bukan sekadar agenda sosial, tetapi simbol kebersamaan dan moral positioning. Pesan yang ingin ditegaskan: kepemimpinan adalah soal kedekatan, bukan hanya kekuasaan.
Momentum ini juga menjadi ruang evaluasi publik. Apakah program benar-benar menyentuh lapisan bawah? Apakah birokrasi semakin responsif? Atau masih terjebak rutinitas administratif?
Setahun pertama adalah fondasi. Pemerintah Kota Kendari optimistis, dengan pijakan yang telah diletakkan, perubahan yang lebih signifikan akan terlihat pada tahun-tahun berikutnya.
Refleksi ini pada akhirnya bukan hanya tentang capaian. Ia adalah narasi tentang arah. Tentang bagaimana duet Siska–Sudirman memosisikan diri di tengah ekspektasi warga yang kian kritis.
Jika fondasi sudah terbentuk, maka tahun kedua dan seterusnya adalah ujian akselerasi. Publik menunggu: apakah “Kendari Semakin Maju” akan menjadi slogan, atau benar-benar menjelma realitas*

