KONSEL, Kongkritsultra.com- Program beasiswa mahasiswa di Konawe Selatan mendadak jadi perbincangan panas di media sosial.

Semuanya bermula dari unggahan salah satu akun media berita di Instagram pada Sabtu (21/2/2026). Alih-alih menuai apresiasi, kolom komentar justru dipenuhi nada kecewa dan pertanyaan tajam dari warganet.

Sorotan utama mengarah pada dugaan ketidaksesuaian hasil seleksi. Sejumlah pengguna media sosial menilai proses penentuan penerima beasiswa tidak berjalan profesional dan transparan.

Akun Instagram bernama _rt_ryn secara terbuka menyiratkan adanya dugaan faktor kedekatan dalam proses seleksi.

“Kalau tidak punya orang dalam, IPK tinggi pun belum tentu lolos,” tulisnya dalam kolom komentar.

Pernyataan tersebut langsung memantik diskusi. Banyak warganet lain ikut membalas dengan pengalaman serupa.

Akun Chassaaaaa_ mempertanyakan ketepatan sasaran program. Menurutnya, beasiswa semestinya diberikan kepada mahasiswa berprestasi atau yang berasal dari keluarga kurang mampu.

“Kalau dari gaya hidupnya saja sudah terlihat bukan kategori kurang mampu, kenapa bisa lolos?” tulisnya.

Tak hanya soal dugaan penerima yang tidak tepat sasaran, sistem pendaftaran daring juga menjadi sorotan.

Akun thyto_ty mengungkapkan kekecewaan karena ada mahasiswa yang tidak diterima hanya karena terlambat mendaftar online satu hari, meskipun berkas fisik telah lengkap dan memenuhi persyaratan.

“Berkas lengkap, IPK sesuai, tapi cuma telat sehari daftar online langsung gugur. Ini bukan kejadian baru,” tulisnya.

Keluhan serupa disebut sudah berulang dari tahun ke tahun.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara beasiswa di Kabupaten Konawe Selatan terkait berbagai tudingan dan kritik yang beredar di media sosial.

Publik kini menunggu klarifikasi.

Di tengah harapan besar mahasiswa terhadap bantuan pendidikan, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci. Tanpa itu, program yang seharusnya meringankan beban justru berpotensi menggerus kepercayaan*