KOLAKA, Kongkritsultra.com- Organisasi Masyarakat Adat (Ormas Adat) Mekongga menegaskan bahwa insiden yang terjadi di kilometer 12 Kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) pada Jumat (10/4) merupakan aksi spontan, bukan hasil mobilisasi atau pengorganisasian tertentu.

Ketua Tamalaki Wuta Kalosara Sultra, Mansiral Usman, mengatakan kehadiran Ormas Adat di lokasi dipicu oleh informasi penutupan akses jalan oleh karyawan PT Tosida Indonesia.Penutupan tersebut membuat sejumlah truk milik pelaku usaha lokal tidak dapat beroperasi.

Menurut Mansiral, Ormas Adat memiliki usaha mandiri sekaligus menjadi mitra di kawasan PT IPIP. Karena aktivitas mereka terganggu, anggota Ormas secara spontan mendatangi lokasi untuk memastikan situasi.

“Kehadiran mereka murni spontan karena akses usaha kecil mereka terhambat. Tidak ada mobilisasi atau pengorganisasian,” ujar Mansiral, Minggu (12/4/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan salah satu perusahaan mitra PT IPIP, PT Master Pancang Pondasi (MPP), bertujuan membantu mengamankan situasi agar anggota Ormas tidak melakukan tindakan anarkis.

“Tidak ada beking atau sponsor. Ini murni reaksi spontan akibat terganggunya aktivitas usaha lokal,” tegasnya.

Mansiral menambahkan, kondisi di kilometer 12 kini telah kembali kondusif dan aktivitas operasional berjalan normal.

Ia menilai keberadaan kawasan industri tersebut membawa dampak positif bagi masyarakat Kolaka dan perekonomian daerah.

Ia juga mengajak semua pihak menjaga iklim investasi, mengingat proyek tersebut merupakan bagian dari program hilirisasi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

Sementara itu, Ketua Ormas Adat Tamalaki Anoa Mekongga Sultra (TAM), Syamsul Rusdin, menyebut ribuan masyarakat lokal telah bekerja di kawasan PT IPIP.

Menurutnya, pembangunan kawasan tersebut turut menurunkan angka pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Kami berharap semua pihak menahan diri dan bersama-sama mendukung pembangunan kawasan ini agar manfaatnya semakin besar bagi masyarakat,” kata Syamsul.

Sebagai putra daerah Desa Sopura yang berada di sekitar kawasan PSN, ia menegaskan komitmen Ormas Adat untuk menjaga keberlangsungan investasi. Namun demikian, Ormas juga akan tetap mengawal apabila ditemukan pelanggaran, khususnya terkait pemberdayaan masyarakat lokal.

Ia kembali menegaskan bahwa peristiwa di kilometer 12 merupakan gerakan spontan dan tidak ditunggangi kepentingan tertentu.

“Ormas Adat berkomitmen menjaga masa depan generasi mendatang. Konflik tidak akan membawa kebaikan, justru akan merugikan semua pihak,” pungkasnya*