KENDARI, Kongkritsultra.com- Malam Tahun Baru Imlek 2577 di Kota Kendari berjalan tanpa riak. Situasi kondusif. Tak ada celah gangguan. Aparat full siaga.

Kapolda Sulawesi Tenggara, Didik Agung Widjanarko, turun langsung memantau pengamanan ibadah malam Imlek, Senin (16/2/2026). Ia didampingi Wakapolda Gidion Arief Setyawan serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sultra

Tak sekadar formalitas. Rombongan menyisir sejumlah vihara di Kota Kendari. Dialog dilakukan. Pengurus tempat ibadah diajak bicara. Satu pesan ditegaskan: negara hadir, keamanan nomor satu.

Turut dalam pemantauan, Danrem 143/Halu Oleo Raden Wahyu Sugiarto, Ketua DPRD Sultra La Ode Tariala, serta Kapolresta Kendari Edwin L. Sengka.

Forkopimda kompak. Satu frekuensi.

Kapolda menegaskan, pengamanan Imlek bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini soal memastikan hak beribadah terlindungi. Soal menjaga ruang toleransi tetap teduh.

“Koordinasi lintas sektor harus solid.

Jangan ada celah yang bisa mengganggu stabilitas kamtibmas,” tegas Irjen Didik.

Bahasa populernya: pengamanan tak boleh setengah-setengah. Semua potensi kerawanan dipetakan. Semua titik rawan diantisipasi. Aparat pasang radar sejak sore hingga ibadah selesai.

Langkah preventif itu bukan tanpa alasan. Perayaan hari besar keagamaan selalu jadi atensi khusus. Apalagi di tengah dinamika sosial yang serba cepat. Sedikit saja lengah, isu bisa liar. Narasi bisa melebar. Karena itu, pola pengamanan dibuat berlapis.

Hasilnya?

Malam Imlek 2577 di Kendari berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Umat menjalankan ibadah dengan khidmat. Aparat tetap siaga, namun tak mencolok. Humanis, tapi tegas.

Kapolda juga mengapresiasi peran masyarakat yang ikut menjaga suasana tetap sejuk. “Keamanan bukan hanya tugas polisi. Ini kerja bersama,” ujarnya.

Pesannya jelas: toleransi harus dirawat. Sinergi harus diperkuat. Dan Kendari malam itu membuktikan—kolaborasi Forkopimda bukan sekadar jargon. Itu kerja nyata*