KENDARI, Kongkritsultra.com-Ramadhan di Kendari tahun ini terasa berbeda. Bukan cuma soal ngabuburit dan war takjil. Ada pergerakan. Ada denyut ekonomi yang dipacu lebih cepat.

Di Pelataran Parkir GOR Apriyani Rahayu, Minggu (22/2/2026), ribuan warga memadati Spot Kuliner Ramadhan 2026 x Recto Festival. Tenant UMKM berjajar. Aroma kuliner tradisional bercampur menu kekinian yang Instagramable. Anak muda, keluarga, komunitas—semua menyatu.

Yang menarik, di balik riuhnya festival itu, ada sosok yang bekerja dalam sunyi tapi berdampak: Ridwan Badallah.

Mewakili Gubernur sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka (ASR), Kepala Dinas Pariwisata Sultra itu membuka acara. Namun publik melihat lebih dari sekadar seremoni.

Ridwan datang dengan gagasan. Event harus berdampak. Bukan hanya ramai di foto, tapi terasa di dompet rakyat.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena mampu menggerakkan sektor UMKM dan industri kreatif. Kita ingin Ramadhan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga momentum kebangkitan ekonomi rakyat,” tegasnya.

Kalimat itu tidak berhenti di panggung. Di lapangan, transaksi berjalan. Pelaku UMKM tersenyum. Lapak diserbu pembeli. Perputaran uang nyata.

Di tengah tekanan daya beli dan ketidakpastian ekonomi, festival ini seperti booster. Minimal jadi injeksi semangat bagi pelaku usaha kecil.

Ridwan terlihat aktif menyapa tenant. Berdialog langsung. Mendengar keluhan soal modal, promosi, hingga akses pasar. Gayanya cair. Tidak berjarak. Ia paham, pariwisata hari ini bukan sekadar destinasi, tapi juga ekonomi kreatif yang saling terhubung.

Di mata Gubernur ASR, Ridwan dinilai mampu menerjemahkan visi besar menjadi kerja teknis yang terasa. Bukan hanya agenda kalender tahunan, tapi ekosistem kolaboratif.

Publik pun mulai melihat pola baru. Dinas Pariwisata tidak lagi sekadar urus panggung dan spanduk. Ada pendekatan strategis: event sebagai penggerak ekonomi mikro.

Spot Kuliner Ramadhan 2026 menjadi etalase bahwa Sultra tak ingin jadi penonton di rumah sendiri. UMKM diberi panggung. Komunitas diberi ruang. Anak muda diberi peluang.

Ridwan Badallah mungkin datang sebagai perwakilan gubernur. Tapi malam itu, ia tampil sebagai orkestrator.

Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar.

Tapi soal memastikan dapur rakyat tetap menyala.

Dan di titik itu, nama Ridwan mulai diperhitungkan*