KENDARI, Kongkrisultra.com- Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, akhirnya buka suara. Kritik yang meragukan kapasitasnya membangun pariwisata berkelanjutan tak ia hindari. Justru dijawab terbuka.
Sorotan itu mencuat sejak awal ia dilantik oleh Gubernur Andi Sumangerukka dan Wakil Gubernur Hugua. Terbaru, kritik kembali mengemuka dalam evaluasi 100 hari pemerintahan.
Ridwan Badallah menegaskan, pemerintah tidak dalam posisi “adem ayem”. Menurutnya, yang dilakukan saat ini adalah menata fondasi besar pengembangan pariwisata Sultra secara terstruktur ujarnya Rabu (25/2025)
Ia mengakui sejak hari pertama menjabat sudah ada keraguan terhadap kapasitasnya, terutama dalam isu sustainable tourism. Namun ia mempertanyakan capaian konkret selama satu dekade terakhir.
“Kalau ekosistemnya sudah kuat, mestinya terlihat dari kontribusi ke PAD, stabilitas konektivitas, dan dampaknya ke masyarakat,” ujarnya.
Ridwan Badallah mengungkapkan, pada 2025 kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD bahkan tidak sampai Rp1 miliar, sementara anggaran yang digelontorkan mencapai puluhan miliar rupiah. Ia juga menyebut konektivitas menuju Wakatobi belum stabil dan masih musiman.
Ia bahkan mengundang Badan Pusat Statistik untuk mengklarifikasi angka wisatawan nusantara. Menurutnya, data wisnus yang sering dibanggakan tidak sepenuhnya merefleksikan kunjungan murni untuk tujuan wisata.
“Sebulan saya menjabat, kami langsung merampungkan desain Poros Pariwisata Sultra dan membangun komunikasi intensif dengan Kementerian Pariwisata,” tegasnya.
Ridwan Badallah menekankan, pariwisata Sultra tidak boleh hanya bertumpu pada satu destinasi. Wakatobi, katanya, bukan satu-satunya wajah pariwisata daerah. Seluruh kabupaten/kota harus tumbuh dalam ekosistem terintegrasi.
Langkah konkret mulai dilakukan. Dispar membuka akses promosi melalui funtrip maskapai AirAsia rute Jakarta–Kendari. Penjajakan rute Morowali–Kendari–Wakatobi dan Makassar–Kendari– wakatobi juga dilakukan.
Di level destinasi, pembenahan dilakukan di Pulau Bokori. Fasilitas terbengkalai sejak 2016 mulai ditata ulang, sistem kebersihan diperbaiki, dan konsep pengembangan baru disiapkan termasuk melibatkan swasta.
Kawasan Kendari Water Sport juga dibenahi sebagai hubungan wisata karena menjadi pintu masuk utama penerbangan dari Jakarta. Sertifikasi destinasi Bokori dan perbaikan akses jalan turut dipercepat.
Pendekatan pentahelix disebut tetap menjadi fondasi. Diskusi dilakukan dengan pelaku usaha, akademisi, komunitas seni, hingga Kadin. Koordinasi lintas daerah juga digencarkan menyambut Sail Indonesia Agustus 2026 di Buton Utara, Wakatobi, Buton Selatan, Muna Barat, dan Kolaka.
Sejumlah agenda disiapkan: Harmoni Sultra, Festival Bokori, Semerbak Dirgantara bersama Mabes AU, hingga event lari di Kendari Water Sport. Tiga unit speed boat Dispar yang sebelumnya rusak juga telah diperbaiki sebagai potensi peningkatan PAD.
Ridwan Badallah menyebut dirinya bukan bekerja sendiri, melainkan bertindak sebagai dirigen yang mengorkestrasi seluruh komponen.
“Yang kami bangun adalah fondasi. Hasilnya memang bertahap, tetapi arahnya jelas: pariwisata Sulawesi Tenggara harus berdampak nyata dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Pesannya tegas: bukan sekadar seremoni 100 hari, melainkan kerja jangka panjang membangun ekosistem*

