Ket gambar: TNI AL Perkuat Patroli, Media Diminta Jadi Mitra Informasi

KENDARI, Kongkritsultra.com- Isu keamanan laut Sulawesi Tenggara kembali menjadi sorotan. Wilayah perairan yang luas, jalur pelayaran strategis, hingga potensi sumber daya laut yang besar membuat kawasan ini masuk dalam radar perhatian berbagai pihak, terutama aparat pertahanan dan media.

Forum diskusi bertajuk “Peran TNI AL dalam Mengawasi dan Melindungi Keamanan Maritim di Sulawesi Tenggara: Tantangan dan Strategi” digelar di kawasan CitraLand Anduonohu, Rabu (4/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan jajaran Pangkalan TNI Angkatan Laut Kendari bersama pimpinan media di Sulawesi Tenggara.

Direktur Sugarpos.com, Sukriansyah S. Latief, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum diskusi tersebut menjadi ruang dialog strategis antara media dan aparat pertahanan laut untuk memperkuat sinergi informasi di tengah era keterbukaan informasi.

Ia menyebut, saat ini kolaborasi menjadi kata kunci. Media dan institusi negara tidak lagi berada pada posisi berseberangan, melainkan harus saling melengkapi dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.

“Di era keterkaitan informasi seperti sekarang, yang terbaik bukan lagi berkompetisi, tetapi bersinergi untuk memperbaiki bangsa ini,” ujarnya.

Menurut Sukriansyah, forum semacam ini juga telah digelar di sejumlah daerah lain dan terbukti mampu memperkuat hubungan kelembagaan serta komunikasi antara insan pers dan aparat negara.

Ia berharap diskusi tersebut menghasilkan feedback konstruktif, khususnya dalam memperbaiki pola penyampaian informasi publik yang akurat dan berimbang.

“Bagi jurnalis, informasi yang benar sangat penting untuk disampaikan kepada masyarakat agar dapat mendorong perbaikan dan kemajuan daerah,” katanya.

Dalam pemaparannya, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Kendari, Dedi Wardana, menegaskan bahwa wilayah laut Sulawesi Tenggara memiliki posisi strategis dalam peta maritim nasional.

Selain kaya sumber daya kelautan, kawasan ini juga menjadi jalur pelayaran penting yang menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia maupun kawasan regional.

“Kondisi ini menjadikan wilayah maritim Sulawesi Tenggara sebagai aset nasional yang harus dijaga bersama,” tegasnya.

Namun di balik potensi tersebut, tantangan keamanan laut juga semakin kompleks. Ancaman tidak lagi sekadar pelanggaran wilayah, tetapi juga kejahatan lintas negara seperti illegal fishing, penyelundupan, hingga aktivitas perompakan.

Selain itu, TNI Angkatan Laut juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keselamatan pelayaran, mengamankan objek vital nasional maritim, serta memastikan stabilitas investasi di sektor kelautan dan industri pesisir.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Lanal Kendari terus melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya meningkatkan intensitas patroli laut dan patroli terpadu di wilayah perairan Sulawesi Tenggara.

Sinergi lintas sektor juga diperkuat bersama kepolisian, Badan Keamanan Laut, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum lainnya. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dan sistem informasi maritim terus dioptimalkan untuk meningkatkan early detection system terhadap potensi ancaman di laut.

Tidak hanya fokus pada operasi militer, TNI AL juga memperkuat pembinaan masyarakat pesisir dan nelayan sebagai mitra strategis dalam menjaga keamanan laut.

Menurut Dedi Wardana, keamanan maritim tidak hanya berbicara tentang wilayah laut semata, tetapi juga berkaitan langsung dengan masa depan ekonomi daerah.

“Keamanan maritim Sulawesi Tenggara bukan hanya tentang menjaga laut, tetapi menjaga masa depan ekonomi daerah, kedaulatan negara, dan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Melalui forum diskusi tersebut, diharapkan lahir pemahaman bersama antara TNI AL dan media dalam mengawal isu-isu kemaritiman. Media diharapkan dapat berperan sebagai strategic partner dalam menyampaikan informasi yang edukatif sekaligus mendukung stabilitas wilayah perairan di Sulawesi Tenggara*