BOMBANA, Kongkritsultra.com- Konstelasi politik internal Partai Golongan Karya (Golkar) di Kabupaten Bombana kembali menemukan bentuknya. Melalui Musyawarah Daerah (Musda) ke-V yang digelar pada 18 Januari 2026, Heryanto resmi kembali memimpin DPD II Partai Golkar Bombana untuk periode 2026–2031.
Pemilihan yang berlangsung secara aklamasi itu menjadi penanda kuat soliditas internal partai. Sebanyak 22 Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Bombana sepakat memberikan dukungan penuh, sekaligus menutup ruang perdebatan dan kontestasi di tubuh organisasi berlambang pohon beringin tersebut ujar Heryanto Senin (19/12026)
Kembalinya Heryanto ke kursi ketua bukan sekadar regenerasi kepemimpinan, melainkan pilihan politik yang sarat pertimbangan strategis. Mantan anggota DPRD Bombana periode 2014–2019 itu dinilai masih menjadi figur pemersatu sekaligus pengendali arah politik Golkar di tingkat daerah.
Usai ditetapkan sebagai ketua terpilih, Heryanto menegaskan bahwa Golkar Bombana tidak hanya berorientasi pada konsolidasi internal, tetapi juga siap mengawal jalannya pemerintahan daerah. Ia menyatakan komitmen partainya untuk mendukung proses pemerintahan Burhanuddin–Ahmad Yani demi stabilitas dan keberlanjutan pembangunan di Bombana.
Namun, dukungan politik tersebut tidak mengaburkan agenda utama Golkar ke depan. Heryanto secara terbuka mengakui bahwa capaian Golkar pada Pemilu Legislatif 2024 lalu belum sesuai harapan. Perolehan dua kursi DPRD dari lima daerah pemilihan menjadi catatan evaluatif yang tak bisa dihindari.
Ia menilai terdapat sejumlah wilayah yang selama ini menjadi titik lemah elektoral, khususnya di Dapil II dan Dapil III. Wilayah-wilayah tersebut, menurutnya, akan menjadi fokus utama penetrasi politik dan kerja lapangan Golkar Bombana dalam menghadapi agenda politik berikutnya.
Tak hanya di level kabupaten, Golkar Bombana juga menargetkan pemulihan kekuatan di Dapil Konsel–Bombana. Target dua kursi seperti yang pernah diraih pada periode sebelumnya kembali dipasang sebagai sasaran realistis sekaligus tantangan politik yang harus dituntaskan.
Seluruh target itu bermuara pada mandat DPD I Golkar Sulawesi Tenggara, yakni perolehan minimal 20 persen kursi DPRD Kabupaten Bombana atau setara dengan lima kursi. Heryanto menegaskan bahwa target tersebut bukan sekadar angka, melainkan kewajiban struktural yang harus diwujudkan.
Sebagai Ketua PPNI Sultra, Heryanto membawa pendekatan organisasi yang sistematis. Ia menekankan pentingnya rekrutmen caleg sejak dini, pemetaan basis suara secara presisi, serta sinergi intensif dengan pengurus provinsi untuk menggarap daerah-daerah yang selama ini dinilai kurang maksimal.
Menurutnya, kerja politik ke depan tidak bisa lagi bersifat normatif. Golkar Bombana harus berpikir jauh ke depan, bekerja dua kali lebih keras, dan memastikan mesin partai bergerak disiplin hingga hari pemungutan suara.
Musda ke-V Golkar Bombana kali ini pun tak sekadar menjadi forum rutin lima tahunan. Ia menjelma sebagai titik awal penegasan arah: dari evaluasi menuju ekspansi, dari bertahan menuju ofensif. Di bawah kendali Heryanto, Golkar Bombana mengirim satu pesan jelas—siap bangkit dan bertarung serius di gelanggang politik berikutnya( Man)

