KENDARI, Kongkritsultra.com- Gerakan lingkungan hidup di Sulawesi Tenggara memasuki babak baru. Melalui program Training Muhammadiyah Green Advocation yang digelar 14–16 November 2025 di Kendari, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama MLH PWM Sultra menegaskan komitmennya untuk melahirkan barisan kader yang siap mengampanyekan green mining secara masif dan terstruktur.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Kado Hijau Milad Muhammadiyah ke-113 ini diikuti peserta dari seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sultra, termasuk perwakilan organisasi otonom tingkat wilayah. Bukan sekadar pelatihan, agenda tersebut diarahkan sebagai starting point lahirnya gerakan advokasi pertambangan hijau di bumi Anoa.

“Ini Bukan Penutup, Ini Titik Awal Perjuangan”

Sekretaris Umum MLH PP Muhammadiyah, Djihadul Mubarok, menegaskan bahwa Green Mining Advocation di Kendari bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Pelatihan ini memang berakhir malam ini, tapi substansinya baru dimulai. Ini adalah awal perjuangan kita menggaungkan green mining dan menegakkan keadilan ekologis di Sultra,” tegasnya saat penutupan Pada (16/11/2025)

Djihadul memastikan MLH PP Muhammadiyah akan terus berkolaborasi dengan MLH PWM Sultra, termasuk melalui webinar dan forum diskusi berkala terkait isu lingkungan dan pertambangan.

Penguatan Kader dan Pembentukan MLH di 17 Kabupaten/Kota

Sekretaris MLH PWM Sultra, Andi Muslimin MS, menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan ini adalah hasil kerja kolektif banyak pihak.

“Saya berharap kader lingkungan hidup Muhammadiyah Sultra tetap solid dan mampu mengaplikasikan ilmunya di tengah masyarakat. Kita ingin kader menjadi garda terdepan dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,” katanya.

Ia juga mengumumkan rencana strategis MLH PWM Sultra: membentuk struktur MLH di seluruh 17 kabupaten/kota.

“Objek masalah lingkungan itu banyak di daerah. Karena itu, koordinasi dari akar rumput sampai pusat sangat penting. Tahun depan MLH akan terbentuk di seluruh kabupaten/kota,” jelasnya

Sebab diperkuat Para Pakar Lingkungan dan Pertambangan Nasional

Pelatihan kali ini menghadirkan sejumlah pakar lingkungan dan pertambangan yang membekali peserta dengan pendekatan ilmu, etika, dan strategi advokasi. Mereka adalah:

Dr. Hanafi C. Guciano, Ph.D

Materi: Tata Kelola Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Pascatambang

Prof. Dr. Lily Surraya Eka Putri, M.Env.Stud

Materi: Green Mining dan Etika Ekologis dalam Perspektif Islam

Rijal Ramdani, S.IP, MPA, Ph.D

Materi: Advokasi Lingkungan Hidup: Dari Gerakan Moral ke Gerakan Kebijakan

Syamsul Hidayat, Ph.D

Materi: Keadilan Ekologis: Mengembalikan Hak Alam dan Masyarakat di Kawasan Tambang

Para pemateri tersebut menekankan pentingnya perubahan paradigma pertambangan: dari eksploitasi semata menuju pengelolaan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat terdampak.

Tiga Sikap Resmi Kader Lingkungan Muhammadiyah Sultra

Di akhir kegiatan, seluruh peserta menyampaikan pernyataan sikap bersama yang menjadi arah perjuangan kader lingkungan ke depan. Tiga poin utama itu yakni:

1. Mendorong pembentukan Komisi Independen Tata Kelola Energi dan Sumber Daya Mineral

Berbasis prinsip green mining, berkeadilan ekologis, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

2. Mendukung penertiban pertambangan ilegal dan penegakan hukum terhadap pelaku industri tambang yang melanggar aturan

Sebagai upaya penyelamatan SDA dan proteksi lingkungan.

3. Mendesak PP Muhammadiyah aktif mengelola perusahaan tambang

Sebagai model pengelolaan yang ramah lingkungan, bertanggung jawab secara sosial, dan menjunjung tinggi keadilan ekologis sesuai peraturan perundang-undangan.

Kegiatan ini dipandang sebagai momentum penting bagi Sulawesi Tenggara—wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi episentrum aktivitas pertambangan nasional. Dengan hadirnya kader-kader terlatih, Muhammadiyah menegaskan diri sebagai salah satu kekuatan moral, intelektual, dan advokatif dalam memperjuangkan tata kelola pertambangan yang lebih beradab*